Senin, 16 Juni 2014

Sekolah Berkararakter SMP Al-Biruni (Sekilas Kenal)

Sekolah Menengah Pertama (SMP) AL-BIRUNI Bekasi merupakan unit pendidikan formal tingkat menengah pertama dibawah Yayasan Istana Yatim Nurul Mukhlisin – Pesantren Motivasi Indonesia (PMI). Yayasan Istana Yatim Nurul Mukhlisin – Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) sendiri dirintis dan dibangun untuk memberikan sumbangsih terhadap pembangunan manusia Indonesia agar tumbuh generasi emas bangsa yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, sikap diri (attitude) yang baik, dan karakter moral yang unggul dengan menyelenggarakan pendidikan yang diorientasikan pada penguatan karakter anak didik.
 
Di tengah rasa cemas bangsa Indonesia atas gejala semakin terkikisnya karakter bangsa, SMP AL-BIRUNI Bekasi hadir dengan penguatan karakter anak didiknya. Karakter di sini dipahami sebagai kualitas mental yang menonjol dan berpola, yang dengan karakter itu anak didik memiliki nilai lebih dan deferensiasi dari anak yang lainnya, baik dari sisi keilmua, akhlaq mulia, maupun spirit kemanusiaannya. Maka, dengan pengembangan karakter sebagai basisnya, SMP AL-BIRUNI Bekasi berusaha membingkai kecerdasan-kecerdasan anak didik santri dengan keseimbangan antara Intelejent Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Physical Quotient (PQ)
 
Pada penerapannya, SMP AL-BIRUNI Bekasi mewujudkannya dalam SAHIH Indikator, yaitu Spiritual (S), Attitude (A), Habit (H), Intelectual (I), dan Helthy (H). Perpaduan pembangunan aspek spiritualitas anak, sikap diri yang patut, kebiasaan yang positif, kecerdasan intelektual yang terus bertumbuh, dan kesehatan anak yang prima diharapkan dapat mendorong anak-anak didik mendapatkan karakter yang unggul dan kompetensi terbaiknya.

Senin, 09 Juni 2014

Mengenal Al-Mawardi (Peletak Dasar Keilmuan Politik Islam)

Nama lengkapnya Abu al-Hasan Ali bin Habib al-Mawardi. Masyhur disebut Al-Mawardi. Lahir di kota pusat peradaban Islam klasik, Basrah (Baghdad) pada 386 H/975 M. Ia belajar ilmu hukum dari Abul Qasim Abdul Wahid As-Saimari, seorang ahli hukum mazhab Syafi'i yang terkenal. 

Tokoh yang pernah menjadi qadhi (hakim) dan duta khilafah ini disebut-sebut menjadi penyelamat berbagai kekacauan politik di negaranya, Basrah (kini Irak).

Selain belajar ilmu hukum, ia juga menguasai tata bahasa, serta ilmu-ilmu agama, seperti hadits dan fiqih, juga politik, filsafat, etika dan sastra.

Karya besarnya Al-Hawi sampai saat ini dipakai sebagai buku rujukan tentang hukum madzhab Syafi'i. Buku ini terdiri dari 8.000 halaman, diringkas oleh Al-Mawardi dalam 40 halaman dengan judul Al-Iqna'.

Karyanya yang paling monumental adalah Al-Ahkaam Al-Shulthoniyah (hukum-hukum kekuasaan). Dalam karyanya ini, termuat prinsip-prinsip politik dan kekuasaan, yang pada masanya merupakan sebagai pemikiran maju, bahkan sampai kini masih digunakan sebagai rujukan politik Islam.

Dalam buku itu dibahas masalah pengangkatan imamah kepala negara, menteri, gubernur, panglima perang, jihad bagi kemaslahatan umum, jabatan hakim, jabatan wali pidana. Selain itu, juga dibahas masalah imam shalat, zakat, fa'i (harta peninggalan perang), dan ghanimah (harta rampasan perang), ketentuan pemberian tanah, ketentuan daerah-daerah yang berbeda status, hukum seputar tindak kriminal, fasilitas umum, penentuan pajak dan jizyah, masalah dokumen negara dan lain sebagainya.

Al-Mawardi menjelaskan, jabatan imamah (kepemimpinan) dinilai sah apabila dua metodologi. Pertama, dia dipilih oleh parlemen (Ahlul halli wal aqdi) atau kedua, ditunjuk oleh imam sebelumnya (penunjukan).

Selain kedua karyanya, yaitu kitab Al-Iqna' dan Al-Ahkam Al-Shulthoniyah, Mawardi menulis buku Adab Al-Wazir (Etika Menteri), Siyasat Al-Malik (Politik Raja), Tahsil un Nasr Wat Ta'jit uz Zafar (Memudahkan penaklukan dan mempercepat kemenangan).  

Mengenal Al-Bakry (Sang Pakar Geografi Ternama Abad 11 Masehi)

Di antara nama-nama besar ilmuwan Islam klasik, tercatatlah Abu Ubayd Al Bakri, seorang geografer terbesar abad XI. Selain menguasai ilmu geografi, beliau juga mahir dalam disiplin ilmu botani, filologi dan bibliofil atau pecinta buku.

Beliau merupakan putra seorang penguasa kerajaan kecil Huelva Saltes di Pesisir Atlantik, sebelah selatan Semenanjung Iberia dan sebelah barat Niebla (Labla). Beliau pernah berguru pada Abu Marwan bin Hayyan yang merupakan ahli sejarah.

Al-Bakri menyusun dua buah buku geografi monumental yang membuat namanya terkenal di Jazirah Arab. Buku dengan titel “Mu’jamma Ista’jam” merupakan sebuah daftar toponyms (nama-nama tempat) yang sebagian besar terletak di Jazirah Arab.

Karya monumental lainnya berjudul “Al-Masalik wa al-Mamalik”. Buku ini terdiri dari beberapa jilid. Jilid pengantarnya terbagi dalam geografi umum, muslim dan non muslim.

 

Masih dalam disiplin geografi, buku lain yang beliau tulis adalah “Itineraries and Kingdoms” atau “Rencana-rencana Perjalanan dan Kerajaan-kerajaan”. Buku ini tidak hanya memuat keterangan-keterangan dan faktor-faktor yang bersifat geografis, tetapi juga mencakup uraian komprehensif mengenai politik, sosial historis, bahkan etnografi (ilmu bangsa-bangsa).
 

Karya-karya lainnya tersebar di luar disiplin ilmu geografi, terutama di bidang ilmu botani. Tulisan “Kitab al-Nabat” menjadi rujukan kaum naturalist (penyelidik alam).
 

Permata ilmu yang ditinggalkan ilmuwan ini menjadi pelita intelektual para ilmuwan berikutnya. Perjalanan keilmuwan beliau berakhir ketika Yang Maha Kuasa memanggilnya. Beliau menutup mata pada bulan Syawal 487 H atau bertepatan dengan November 1094 M di Kordoba.

Mengenal Al-Battani (Pakar Astronomi Islam Kenamaan)

Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan Al-Battani. Ia lebih dikenal dengan panggilan Al-Battani atau Albatenius.

Al Battani lahir di Battan, wilayah Suriah pada sekitar 858 M. Keluarganya menganut sekte Sabbian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun ia tak mengikuti jejak langkah nenek moyangnya, ia lebih memilih memeluk Islam.

 

Ketertarikannya dengan benda-benda yang ada di langit membuat Al Battani kemudian menekuni astronomi. Secara informal ia mendapatkan pendidikan dari ayahnya yang juga seorang ilmuwan, Jabir Ibn San’an Al-Battani. Keyakinan ini menguat dengan adanya bukti kemampuan Al Battani membuat dan menggunakan sejumlah perangkat alat astronomi seperti yang dilakukan ayahnya.
 
Penemuan Al-Battani yang paling monumental adalah lamanya bumi mengelilingi matahari. Berdasarkan perhitungannya, bumi mengelilingi pusat tata surya tersebut dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Ia menggenapkan hasil pemikiran Ptolemius tentang matahari sebagai pusat tatasurya.
 
Al Battani juga menentukan secara akurat kemiringin ekliptik, panjangnya musim dan orbit matahari. Ia pun bahkan berhasil menemukan orbit bulan dan planet serta menetapkan teori baru untuk menentukan sebuah kondisi kemungkinan terlihatnya bulan baru. Ini terkait dengan pergantian dari sebuah bulan ke bulan lainnya.

 

Dalam bidang matematika, Al Battani juga memberikan kontribusi gemilang terutama dalam trigonometri. Laiknya, ilmuwan Muslim lainnya, ia pun menuliskan pengetahuannya di kedua bidang itu ke dalam sejumlah buku.
 

Bukunya tentang astronomi yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij. Sementara terjemahan karya tersebut ke dalam bahasa Spanyol muncul pada abad ke-13. Pada masa selanjutnya baik terjemahan karya Al Battani dalam bahasa Latin maupun Spanyol tetap bertahan dan digunakan secara luas.

Mengenal Al-Khawarizmi (Penemu Teori Algoritma dan Pencetus Teori Aljabar pada Matematika)

Nama panjangnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al Khawarizmi, seorang intelektual Islam yang lahir pada tahun 770 Masehi, di sebuah kota bernama Khawarizm. Khawarizm adalah sebuah kota kecil sederhana di pinggiran sungai Oxus, yang mengalir panjang dan membelah negara Uzbekistan.

Uzbekistan, adalah sebuah negara muslim yang besar sebelum tentara Rusia mengambil alih dan menggempur daerah itu pada tahun 1873. Ratusan tahun lebih Uzbekistan berada dalam tatanan pemerintahan Islam dengan penduduk mayoritas Islam yang hidup makmur dengan rahmat melimpah. Tapi rupanya, hal ini membuat orang-orang Rusia mulai melirik Uzbekistan menjadi satu di antara banyak negara jajahannya. Al-Khawarizmi adalah seorang tokoh matematika besar yang pernah dilahirkan Islam dan disumbangkan pada peradaban dunia. Al-Khawarizmi juga ahli astronomi, dan ahli ilmu geografi.

Al-Khawarizmi terkenal dengan teori Algoritma, Sebuah teori yang mempermudah manusia menghitung dalam jumlah besar dengan menggunakan sistem decimal. Teori lainnya yg paling monumental adalah teori Aljabar yg diambil dari kata depan judul buku yang dikarangnya, “Al Jabr wa Al Muqabilah”.

Dalam buku ini ia merumuskan dan menjelaskan secara detail table trigonometri. buku ini juga mengenalkan teori-teori kalkulus dasar.

Mengenal Al-Zahrawi (Penemu Acuan Operasi Pada Ilmu Kedokteran Modern)

Nama panjangnya Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Al-Zahrawi. Lahir di Al Zahra’a, 6 mil utara Cordoba di Andalusia (sekarang Spanyol), tahun 936. Al-Zahrawi sering juga dipanggil Albucasis. Dia mengawali karirnya sebagai dokter bedah dan pengajar di beberapa sekolah kedokteran.

Namanya mulai menjadi perbincangan di dunia kedokteran setelah dia meluncurkan buku paling populer di dunia kedokteran, At-Tasrif liman ‘Ajiza ‘an at-Ta’lif (Metode Pengobatan).

Dalam buku itu, ia banyak menguraikan tentang hal-hal baru dalam operasi medis. Al-Zahrawi juga menciptakan sejumlah alat bantu operasi, yaitu instrumen untuk mengoperasi bagian dalam telinga, instrumen untuk inspeksi internal saluran kencing, dan instrumen untuk membuang sel asing dalam kerongkongan.

Al-Zahrawi terkenal sebagai pakar operasi yang piawai mengaplikasikan aneka teknik paling tidak untuk 50 jenis operasi yang berbeda. Dia jugalah yang pertama menguraikan secara detil operasi klasik terhadap kanker payudara, lithotrities untuk ‘menggempur’ batu ginjal, dan teknik membuang kista di kelenjar tiroid.

Dalam bukunya, Al-Tasrif, Al-Zahrawi mendiskusikan tentang penyiapan aneka obat-obatan yang diperlukan untuk penyembuhan pasca operasi, yang dalam dunia pengobatan modern dikenal sebagai ophthalmologi atau sejenisnya. Dalam penyiapan obat-obatan itu, ia mengenalkan teknik sublimasi.

Zahrawi juga ahli dalam bidang kedokteran gigi. Bukunya memuat beberapa piranti penting dalam perawatan gigi. Misalnya thereof, alat yang sangat vital dalam operasi gigi.

Al-Zahrawi menjadi pakar kedokteran populer di zamannya. Bahkan hingga lima abad setelah kematiannya, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia. Beliau berpulang pada tahun 1013. Namanya tercatat dengan tinta emas dalam dunia kedokteran modern hingga kini.

Mengenal Al-Idrisi (Ahli Gegrafi Islam - Pencipta Peta Dunia Pertama Kali)

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abdullah Ibn Idris Ash Sharif. Ia dilahirkan di Ceuta, Spanyol tahun 1100 M/493 H.
Syarif Al-Idrisi dikenal masyarakat Barat sebagai seorang ahli Geografi yang telah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 ons untuk Raja Roger II dari Sicilia (Sekarang kita kenal sebagai nama pulau di selatan Italia).
Idris menempuh pendidikannya di Cordova. Seperti Geografer lainnya, ia pun bepergian ke tempat-tempat yang jauh termasuk Asia dan Afrika, untuk mengumpulkan data Geografi.

Mayoritas Geografer muslim di masa Idris, telah mampu membuat ukuran permukaan bumi yang akurat. Ketika itu beberapa peta dunia juga telah dibuat, namun tak sesempurna karya Idris. Dari bahan-bahan yang telah dikumpulkan, Idris mengkombinasikan sendiri temuan-temuannya menjadi sebuah pengetahuan baru.

Kemasyhuran Idris dan kompetensinya di bidang Geografi terdengar oleh Roger II, Raja Norman dari Sicilia (1129-1140 M). Roger II mengundang dan memfasilitasi Idris untuk membuat peta dunia paling baru saat itu. Idris menyanggupi, namun ia mengajukan syarat bahwa dalam peta itu ia ingin memasukkan data wilayah Sicilia yang pernah berada di bawah kekuasaan kaum muslimin sebelum Raja Roger berkuasa.

Peta pesanan sang Raja diwujudkan Idris ke dalam bentuk bola dunia (globe) seberat 400 ons, yang secara cermat memuat danau dan sungai, kota-kota besar, daratan serta pegunungan. Idris membedakan pula antara tanah yang subur (pertanian) dan tanah yang gersang.

Setelah menyelesaikan buku itu, Idris membuat kembali sebuah kompilasi ensiklopedi yang lebih komprehensif berjudul Rawd Unnas wa-Nuzhat al-Nafs (Kenikmatan Lelaki dan Kesenangan Jiwa).

Selama beberapa abad, karya-karyanya menjadi buku yang sangat populer di daratan Eropa. Saat Christopher Columbus melakukan pelayaran mengelilingi dunia, ia menggunakan peta buatan Al-Idrisi.