Rabu, 09 Juli 2014

MENDETEKSI KEBOHONGAN ANAK

Waspadai anak jika mulai suka bohong


Diakui atau tidak, anak-anak kita banyak yang cenderung berbohong. Perilaku berbohong biasanya dilakukan anak untuk menyembunyikan kesalahan, kelemahan, atau agar tidak dimarahi. Orang tua perlu mewaspadai sikap anak semacam ini. Karena jika tidak, anak akan terbiasa berbohong untuk menutupi perilaku negatifnya di hadapan orang tua, dan jika itu berlangsung dalam waktu yang lama, anak akan betul-betul mahir menjadi pembohong.

Ciri-ciri anak berbohong bisa diketahui dengan memperhatikan perubahan gerakan tubuhnya, tatapan matanya, ekspresi wajahnya, intonasi suaranya, dan pernafasannya.
Para orang tua perlu memahami cara mengidentifikasi cirri-ciri anak yang memulai berbohong ini, agar segera bisa menangani anak dan dikembalikan kepada fitrah positifnya.

Mari kita simak ciri-ciri anak yang berbohong berikut.

1.    Perhatikan  gerakan tubuhnya
     - Secara umum anak yang sedang berkata bohong tubuhnya akan digeser sehingga tidak berani berhadapan langsung dengan kita. Biasanya sambil berbicara anak tersebut akan memalingkan/memiringkan sedikit tubuhnya , sedikit menjauh dari kita, terlihat tidak percaya diri, tidak rileks, terlihat cemas.
     - Cara berdirinya tidak tegap dan salah tingkah, jika anak tersebut sedang duduk, duduknya terlihat gelisah dan banyak bergerak.
-    - Jari tangannya terlihat bergetar, dan kadang menyembunyikan kegugupannya dengan menyilangkan tangannya di antara dada dan perutnya.
     - Menggerak-gerakkan dan memainkan tangan atau kakinya tanpa disengaja. Jika anak tersebut melakukan dengan sengaja juga akan terlihat kaku dan terlihat tidak alami.
     - Menggerak-gerakkan dan memainkan jari tangannya, memainkan pulpen, sambil menulis, dan sebagainya.
     - Menggaruk-garuk hidung, kuping, leher, dagu, rambut, atau kepala. Dan sering mengarahkan jari tangannya ke arah wajah, mengusap wajah. Dalam kondisi tertentu kadang menutup mulutnya dengan jari tangannya.

     2. Perhatikan tatapan matanya
     - Anak yang sedang berbohong cenderung takut dan tidak berani bertatapan mata secara langsung saat sedang bicara.
     - Saat berbicara seringkali melempar pandangannya ke arah lain atau menunduk (menatap ke bawah).
     - Matanya berkedip lebih sering dibandingkan dalam keadaan normal. Ini terjadi karena anak tersebut sedang memikirkan dan merangkai kata-kata dalam otaknya.
     - Saat sedang berbicara bola matanya sering melihat ke arah kanan atas. Itu artinya dia sedang mengakses otak kreatif, sedang mencari alasan dan merekayasa jawaban.
     - Jika bola mata mengarah ke kiri atas, itu berarti anak tersebut sedang mengakses kumpulan data  dan fakta (memory), sedang mengambil data dan informasi yang tersimpan dalam otaknya, mengingat-ingat sesuatu yang pernah dialaminya.

     3.Perhatikan Ekspresi Wajahnya
- Anak yang berbohong dan sedang menyembunyikan seuatu biasanya memalingkan wajahnya dari lawan bicaranya karena takut ketahuan ‘ekspresi palsu’ wajahnya, dan seringkali menundukkan wajahnya.
     - Warna kulit raut mukanya berubah lebih merah atau terlihat pucat. Jika anda jeli, anda akan dapat melihact perubahan rona wajahnya. Wajahnya terlihat tegang, stress, tidak rileks, dan tidak tenang.
     - Senyumnya terlihat dipaksakan, terlihat tidak normal. Senyum yang normal akan digerakkan oleh pikiran, yang biasanya selain mulutnya tertarik ke belakang, juga akan menarik matanya ke arah samping, sehingga matanya terlihat lebih kecil. Sedangkan senyum yang dipakasakan/senyum kepalsuan digerakkan oleh pikiran sadar, mulutnya saja yang tertarik ke belakang, kedua matanya tetap dan normal.

     4. Perhatikan Intonasi Suaranya
-    - Ketika sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu, biasanya suaranya terdengar gagap, sering berdehem, kata-katanya terputus-putus dan tidak lancer, karena anak sedang berusaha mengatur kata-kata yang hendak disampaikan.
     -  Intonasi suaranya terdengar bergetar, terbata-bata, berat dan perlahan, atau bahkan terlalu cepat.
- Sulit untuk mengeluarkan kata-kata atau suara dan kata-katanya seperti tercekat di tenggorokan.
     - Sering mengalihkan topik pembicaraan untuk menghindari pertanyaan anda, karena anak tersebut tidak nyaman dengan topik yang sedang anda bahas, dia terlihat ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan dengan anda.
- Tidak menyukai pertanyaan tertutup, yang jawabannya ‘YA’ atau ‘TIDAK’. Jika diberi pertanyaan tertutup, seringkali jawabannya panjang lebar dan berbelit-belit.
Mudah tersinggung dan marah jika anda dianggap masih tidak mempercayainya.
- Sering mengatakan “mama sih nggak percaya saya”, “mama harus percaya”, “jujur, saya tidak bohong”, “saya sudah berusaha mengatakan yang sebenarnya”, dll.
- Itu semua dikatakan untuk meyakinkan orang lain untuk mempercayainya dan menutupi kebohongannya.

     5. Perhatikan pernafasannya.
- Detak jantungnya terlihat di permukaan dadanya, meski anak tersebut berusaha menutupinya.
- Pernafasannya terlihat agak berat, agak ngos-ngosan, terasa sesak, dan kadang membuatnya terbatuk 
- Sering menghela nafas dan kadang kesulitan mengatur nafas.

Otak manusia sesungguhnya diciptakan Allah SWT dengan fitrahnya yang condong pada kebenaran. Sehingga jika otak manusia diajak melakukan kebohongan, maka ada satu titik di bagian otak yang segera beraksi untuk mencegah terjadinya kebohongan itu. Itulah sebabnya anak yang berbohong tidak menunjukkan sikap normal, kecuali jika dia sudah sangat ahli berbohong. Satu titik di otak itulah yang mengakibatkan seolah-olah sang anak berat untuk berfikir, walaupun durasi beberapa detik saja.

Penulis:
Gus Hamim Enha
Direktur Sekolah Berkarakter SMP Al-Biruni

Selasa, 08 Juli 2014

15 POLA PENDIDIKAN YANG SEBAIKNYA DITERAPKAN OLEH ORANG TUA


 

Kemarin kita sudah membahas tentang tipe-tipe orang tua dalam menghadapi anak-anaknya. Semua orang tua pasti berharap menjadi orang tua ideal dan meninggalkan tipe-tipe lainnya. Kendati, harus diakui, kita tanpa sadar masih saja beralih ke tipe-tipe yang menjauhkan kita dari tipe orang tua ideal. 

Kali ini kita mengulas pola pendidikan yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua. Ya, tulisan ini saya posting sambil lalu saja, mumpung-mumpung sedang liburan Pilpres 9 Juli 2014. Lho, musim nyoblos Capres kok masih sempat menulis postingan? Ya, nyoblosnya kan nggak sampai 5 menit.

Berikut ini 15 pendidikan yang sebaiknya diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya:

1) Berkomunikasilah secara positif.
Orang tua harus mempunyai persepsi bahwa anak itu unik dan mempunyai perbedaan yang istimewa dibandingkan dengan anak lainnya. Orang tua harus memiliki kemampuan untuk membangun bakat yang dimiliki anak dengan cara yang positif. Kalau Ibu ingin anaknya belajar bukan mengatakan " Jangan malas-malas!", Tapi lebih baik mengatakan " Ayo dong semangat belajar". 

2) Hindari membandingkan dengan anak lain.
Jangan membandingkan dengan anak lain, tapi bandingkanlah kemajuan yang dicapainya dengan kemajuan yang lebih baik. Hindari mengatakan “kakak kamu lebih hebat. Seharusnya kamu seperti dia dong”. Kata-kata yang membandingkan dengan anak lain, tidak saja melukai perasaannya, tapi juga membuat anak mengimajinasikan musuh baru. Sebaiknya mengatakan yang membandingkan prestasinya. Misalnya “nilai kamu kemarin masih kurang bagus. Besok harus lebih baik ya…”  

3) Dorong anak untuk ikut kompetisi
Anak yang berusia 5-8 tahun lagi senang-senangnya berkompetisi, karena dari sisi kognitifnya memang sedang dalam tahapan ingin menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Biasanya kalau sudah usia 12 tahun keinginan untuk berkompetisi berkurang. Jika ingin membentuk anak yang hebat, latihlah dan biasakan anak berkompetisi secara sehat sejak dini. Dengan demikian, anak bisa menghargai kemampuannya, namun juga memiliki sikap toleran terhadap kekalahan.

4) Hindari memotong pembicaraan anak
Orang tua yang tidak sabar mendengar pembicaraan anak atau alasan anak melakukan sesuatu, biasanya cenderung langsung menyalahkan anak. Sehingga anak merasa disudutkan. Akan berbahaya jika anak melampiaskan emosinya pada perilaku yang salah. Orang tua semestinya lebih banyak mendengarkan anak terlebih dahulu dengan penuh perhatian. Anak sebenarnya juga ingin dihargai pendapatnya. Membiasakan diri mendengarkan anak akan melatih anak berani mengemukakan pendapat dan gagasannya.

5) Fokus pada tujuan
 Terkadang orang tua banyak asal memerintah, tanpa menyisipkan kalimat positif yang berfokus pada tujuan yang dikehendaki. Misalnya “jangan malu bertanya, nanti sesat di jalan.” Akan lebih baik jika mengatakan “kalau berani bertanya, itu tanda anak cerdas”. Dengan kalimat yang positif dan menggugah, anak akan lebih terinspirasi.

6) Memberikan banyak pujian, di waktu yang tepat.
Terlalu banyak waktu dan energy yang terbuang jika orang tua hanya mengkritik sikap buruk sang anak. Sebaliknya, jadi kekurangan waktu untuk memberikan pujian atas sikap positifnya. Dengan memberikan sanjungan dan pujian secara proporsional, anak akan lebih suka untuk merubah kebiasannya dan lebih baik melakukan sesuatu.

7) Berikan pelukan, belaian, dan ciuman  
Biasakan memeluk buah hati anda hingga 12 kali sehari.  Dengan banyak mendapatkan kepelukan, anak akan merasakan adanya kedekatan, kehangatan, merasa nyaman dan terlindungi, sehingga terbentuk ikatan emosional yang baik, disamping anak akan merasa diterima dan didukung oleh orang tuanya.

8) Membangun aturan sederhana
Melatih kedisplinan bisa dilakukan dengan membangun kebiasaan positif. Misalnya, jam makan, jam tidur, dan lain sebagainya. Ini akan melatih anak hidup disiplin.

9) Hindari bicara dengan anak ketika sedang mengalami emosi negatif.
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, orang tua menuntut anak berbuat lebih tanpa memperhatikan kondisi perasaan dan emosi anak. Sehingga anak merasa serba diatur, jengkel, marah, dan kesal. Kondisi anak seperti ini akan membuat anak tidak nyaman dan melampiaskan dengan melawan kehendak orang tua. Konflik orang tua – anak biasanya diawali dengan gejala seperti ini.

10) Ingat! Orang tua yang harus lebih mengerti anak. Bukan anak yang harus mengerti orang tua.
Kerap kali karena orang tua sudah habis kesabarannya lalu mengatakan “Dede, kenapa sih kamu nggak mau ngertiin mama?” Coba perhatikan, apa yang salah dalam kalimat itu? Mamanya lebih tua dan lebih banyak program yang dimiliki. Sementara sang anak masih belia dan belum banyak memiliki pengalaman hidup. Masak anak yang harus mengerti orang tuanya. Harusnya, orang tua yang lebih mau mengerti kemauan anak. Hindari juga mengatakan “kamu anak lebih besar, harus bisa member contoh adikmu donk”, atau “kamu kan sudah besar, kamu dong yang harus mengalah.” Kalimat-kalimat itu akan membuat anak tersudut, sementara dia tidak memiliki contoh bagaimana cara mengalah. Semestinya, orang tua yang memberikan contoh.

11) Hargai dan hormati privasi anak
Ada kalanya anak ingin sendiri dan tidak ingin diganggu. Ketuk pintu sebelum masuk kamar anak, dan jangan pernah memarahi/ menegur anak di depan teman-temannya.

12) Simak, dengarkan, dan tatap mata anak saat ia bicara.
Biasakanlah untuk attending, yaitu menghadirkan diri kita di hadapan anak dengan segala jiwa dan raga kita. Jangan bicara dengan anak sambil mengerjakan pekerjaan lain. Tinggalkan apapun aktivitas anda sejenak untuk mendengarkan anak saat ia bicara kepada anda.

13) Berikan waktu yang berkualitas buat anak.
Berikan perhatian dan waktu khusus untuk berdiskusi dan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah anak, dan bukan masalah anda. Berikan masing-masing anak waktu special untuk berinteraksi dan bekomunikasi dari hati ke hati.

14) Berikan sugesti positif kepada anak dengan cara membuat label karakter yang diinginkannya.
Ajarkan anak anda membiasakan diri untuk melakukan afirmasi positif seperti : Saya adalah anak yang pemberani, jujur dan bertanggung jawab…!

15) Menjadi orang tua ideal bagi anak anda
Tunjukkan bahwa anda adalah orang tua yang terbaik sedunia. Bukan saja sebagai orang tua, tapi juga bisa menjadi teman, sahabat yang paling mengerti dan memahami pribadinya. Sehingga anak memiliki rasa bangga, merasa nyaman, dan menjadikan orang tua sebagai panutan dan teladan baginya.

Selamat mencoba....!

Penulis:
Hamim Enha
DIrektur Sekolah Berkarakter SMP Al-Biruni.

TIPE-TIPE PARA ORANG TUA TERHADAP ANAKNYA

Jika anda yang berkenan mengunjungi blog Suara Al-Biruni (Voice of Al-Biruni) ini adalah orang tua, semoga tulisan ini sedikit memberi ruang tahu, bahwa dalam berhubungan dengan anak-anak anda, sesungguhnya model atau tipe orang tua seperti apakah anda?

Tentu saja, tulisan ini bukan bermaksud menghakimi anda. Tulisan ini hanya sekedar sebagai alarm pengingat semata, bahwa kita acap kali bertindak keliru dalam menghadapi anak-anak kita, namun kita merasa benar, demi satu alasan: karena kita adalah orang tua. Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menghakimi, menyudutkan, apalagi menyinggung anda sebagai orang tua. Tapi, kalau anda merasa tersinggung, ya mohon dimaafkan.

Setidaknya kategori orang tua terbagi menjadi 6 tipe, yaitu Tipe Over Protectyve, Tipe Over Permissive, Tipe Over Demanding, Tipe Rejection, Tipe Dry Cleaning, dan Tipe Ideal. Mari kita kupas satu demi satu ya...

TIPE OVER PROTECTIVE
Ini adalah tipe orang tua yang sangat melindungi anaknya.Mereka secara demontratif berusaha menunjukkan dan berperilaku untuk sangat menyayangi dan mencintai anaknya.Akan tetapi, karena rasa yang sangat sayang itu, orang tua tipe ini cenderung berfikir negatif dalam melihat sesuatu yang berkaitan dengan anaknya, sehingga selalu khawatir dan mencemaskan anaknya. Didorong rasa cemas yang berlebihan, biasanya orang tua tipe ini akan membatasi pergaulan anaknya. 

Dampak negatif tipe orang tua seperti ini bagi anak adalah:
- Anak menjadi kuper dan berinteraksi dengan orang lain.
- Kepekaan sosial anak menjadi rendah.
- Anak cenderung tertutup dan memiliki kecemasan yang sama seperti orang tuanya.
- Anak merasa tidak aman dan cenderung tidak percaya kepada orang lain.


TIPE OVER PERMISSIVE
Tipe ini adalah kebalikan dari tipe Over Protective. Orang tua yang Over Permissive, karena rasa sayangnya kepada anak, selalu berusaha tampak baik di mata anak. Mereka selalu memberikan/menuruti apapun permintaan anak. Orang tua tipe ini selalu khawatir jika mengecewakan anak, sehingga mereka memilih sikap untuk membolehkan anak melakukan apapun yang disukai dan dimaui anak.

Akibatnya:
- Anak kurang menghargai kerja keras.
- Tidak memiliki daya juang dalam hidupnya.
- Tidak mengerti batasan mana yang boleh dan mana yang dilarang untuk dilakukan.
- Anak lebih mementingkan hasil daripada proses.


TIPE OVER DEMANDING
Orang tua tipe ini biasanya menuntut anak untuk hidup dengan standar tinggi versi orang tuanya. Mereka juga menuntut anak harus berprestasi tinggi, pintar, disiplin dalam segala hal.

Akibatnya adalah:
- Anak cenderung bermasalah
- Anak sering cemas dan tertekan
- Anak merasa ketakutan mengecewakan orang tuanya.
- Anak akan kehilangan jati dirinya.

TIPE REJECTION
Tipe ini adalah orang tua yang secara sadar maupun tidak menolak anak mereka, baik secara fisik, verbal, atau secara emosional. Orang tua seperti ini biasanya sangat sibuk dengan diri dan dunianya sendiri, lalu menyerahkan pendidikan dan pengasuhan anaknya kepada orang lain. Jika ditanya tentang pendidikan anaknya, biasanya menjawab: "kan sudah disekolahkan". Mereka selalu menyingkirkan anak dari hadapannya dan merasa terganggu dengan kehadiran anaknya.

akibatnya adalah:
- Anak merasa terasing dan jauh dari orang tuanya.
- Anak akan defisit rasa kasih sayang dan perhatian.
- Anak miskin sentuhan cinta orang tua.
- Akibatnya anak melampiaskan dengan membuat ulah atau melakukan banyak hal yang membuat orang tuanya kesal, marah, dan jengkel. Biasanya berakhir dengan kekerasan kepada anak.

TIPE DRY CLEANING
Orang tua tipe ini adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab terhadap pendidikan, perkembangan, dan pertumbuhan anaknya.Biasanya mereka ingin anak-anaknya akan menjadi anak-anak hebat, maka mereka menyerahkan pendidikan anaknya pada sekolah yang top, mahal, dan berkelas. Jika anak mereka bermasalah, mereka segera membawa anaknya ke terapis, konselor, psikolog. Kalau perlu dijampi-jampi oleh dukun atau minta doa kepada kyai atau ustadz.

Akibatnya adalah:
- Anak semakin yakin bahwa mereka adalah anak bermasalah.
- Anak merasa menjadi beban bagi orang tuanya.
- Anak mencari figur/komunitas yang tepat untuk melampiaskan emosinya.
- Anak meras dirinya tidak berharga.

TIPE IDEAL.
Tipe orang tua ini adalah orang tua yang memiliki cinta tak berbatas kepada anaknya. Tetapi tidak memanjakan anaknya secara berlebihan. Mereka tidak masuk dalam kategori orang tua yang ekstrem, mereka tahu kapan membiarkan anak mengkplorasi kemauannya, tetapi juga tahu kapan bersikap hati-hati dan melindungi anaknya, mereka tahu kapan melarang dan membolehkan anaknya, mereka tahu kapan waktu yang tepat memberikan apa yang diminta oleh anaknya, mereka juga tidak menolak anak dan mengambil tanggung jawab pendidikan, perkembangan, dan pertumbuhan anaknya, baik pertumbuhan intelektual maupun pertumbuhan mental emosional anaknya secara penuh  dan proporsional.

Jadi, tipe orang tua seperti apakah anda?

Penulis:
Gus Hamim Enha
Direktur Sekolah Berkarakter SMP Al-Biruni

Senin, 07 Juli 2014

Seorang Pemimpin Harus Terus Belajar

Esok hari tepat tanggal 9 Juli 2014. Indonesia akan merayakan pesta demokrasi untuk memilih pemimpin baru yang akan menjadi Presiden untuk masa waktu 5 tahun ke depan.

Sekolah Berkarakter SMP Al-Biruni tidak bermaksud untuk ikut-ikutan berpolitik praktis. Sebagai sebuah unit pendidikan yang bernaung kepada Pesantren Motivasi Indonesia - Istana Yatim Nurul Mukhlisin, kami merasa perlu untuk berpolitik. Tentu saja bukan politik dukung-mendukung, melainkan politik kebangsaan.

Sudah sejak lama sebetulnya saya membangun gagasan agar entitas keagamaan seperti pesantren melakukan politik kebangsaan. Yaitu sebuah kesadaran politik untuk terlibat dalam proses demokrasi untuk mewujudkan bangsa yang adil, makmur, dan negara yang melindungi warganya. Pesantren sudah selayaknya tidak menarik diri dari hiruk-pikuk pesta demokrasi. Pesantren justru perlu memainkan perannya untuk mengajak sebanyak mungkin umat agar terlibat dalam proses demokrasi dan memilih pemimpin yang adil, amanah, dan jujur.

Pemimpin yang ideal seperti itu hanya ada jika pemimpin mau dan bersedia untuk terus belajar. Pemimpin- siapa pun dia- jika merasa lebih tahu segalanya dan tidak mau belajar dalam kehidupan ini, maka secara perlahan, kepemimpinannya akan terdegradasi. Bukan menjadi pempimpin yang melayani, tetapi pemimpin yang otoriter dan memperkaya diri sendiri.

Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyatnya. Dengan lebih dekat dengan rakyatnya pemimpin itu akan banyak mendapat informasi langsung berdsarkan fakta yang ada dan pelajaran tentang seharusnya dikerjakan untuk kemakmuran rakyatnya.

Mari kita menyimak cerita Umar Ibn Khattab berikut ini yang bersedia berguru kepada seorang wanita tua:

Suatu ketika, bencana kelaparan hebat melanda wilayah Arabiah Utara. Khalifah Umar Ibn al-Khattab melewati hari-harinya tanpa istirahat dan tidak bisa tidur memikirkan cara menanggulangi bencana tersebut. Ia bersumpah tidak akan menikmati makanan enak, tidak menyentuh susu dan mentega sampai kelaparan berakhir.

Bencana itu disusul dengan wabah sampar yang mematikan yang menyebar di Syria. Khalifah Umar mengambil untanya dan berangkat ke Syria untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Dalam perjalanan pulang dari Syria, Umar melihat sebuah tenda kecil yang menarik perhatiannya. Ia melihat seorang wanita lanjut usia di pintu tenda itu.

Khalifah Umar menyapa, "Wahai Ibu, apakah anda mengetahui tentang Khalifah Umar?"
"Ia sedang dalam perjalanan pulang dari Syria ke Madinah," jawab si wanita.
"Apalagi yang engkau ketahui?" tanya Umar menyelidik.
"Apalagi yang perlu diketahui dari orang jahat itu? Biarkan dia pergi ke tempat yang buruk"
"Mengapa begitu, wahai ibu?"
"Mengapa tidak, Dia tidak memberi kami apa-apa hingga sekarang," jawab wanita itu ketus.
"Tetapi bagaimana ia tahu segala sesuatu yang terjadi di wilayah yang jauh ini?"
"Jika tidak tahu kondisi rakyatnya, mengapa masih ia tetap menjabat sebagai khalifah?

Umar pun memberi hormat kepada wanita itu seraya berkata, "Ibu, anda telah memberi Umar pelajaran".


Penulis:
Hamim Enha - Guru di SMP Al-Biruni




Kamis, 03 Juli 2014

ANAK DIBENTAK, RUSAKLAH SEL OTAK

Tahukah anda?

Di dalam setiap kepala seorang anak, terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh dan berkembang.

Satu bentakan atau makian ternyata mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak anak saat itu juga. Bukan cuma itu, satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. 

Sebaliknya, satu pujian, sanjungan, pelukan, atau ucapan sayang akan membangunkan kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak anak saat itu juga.

Lise Gliot, pakar dan ahli Brain Science (ilmu tentang seluk beluk otak) dari Fakultas Chicago, pernah membuat penelitian.

Hasilnya: memarahi anak dapat mengganggu struktur otak anak. Suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan, pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.

Penelitian Lise Gliot ini dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya.

Hasilnya luar biasa, saat ibu menyusui anaknya, di otak anak terbentuk rangkaian yang indah. Namun, saat ia terkejut atau sang ibu sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian yang indah tadi menggelembung seperti balon lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Ini baru satu bentakan saja. Bayangkan jika kekerasan atau pukulan yang diterima sang anak.

Dari penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangan otaknya. Jika ini dilakukan secara tak terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri. 

Penulis:
Gus Hamim Enha
Direktur Sekolah Berkarakter SMP Al-Biruni